8 Tanjakan Unik di Jalur Pendakian Gunung - Gunung di Jawa

Loading...
Tanjakan Unik Jalur Pendakian Gunung di Jawa. Pulau jawa merupakan salah satu pulau yang masuk dalam daerah cincin api sehingga banyak gunung berapi yang berjajar diatasnya. Pendakian gunung-gunung di pulau Jawa'pun selalu menawarkan tantangan bagi setiap penggiat alam bebas untuk menggapai puncaknya.  Tidak hanya gunung berapi, gunung yang sudah tidak aktif juga menawarkan pesona tersendiri bagi para pecinta alam.

Dengan banyaknya kegiatan pendakian, lambat laun jalur-jalur pendakian gunung mulai dikelola dan dibangun pos-pos di sekitar lerengnya untuk memudahkan penandaan bagi para penggiat alam bebas. Nah, hal yang unik adalah adanya berbagai nama aneh di setiap tanjakan jalur pendakian yang tentunya membuat penggiat alam penasaran. Sedangkan bagi yang sudah pernah mengalami, tentu hafal dan menyimpan baik-baik memori bersama tanjakan-tanjakan unik yang ditemui di jalur pendakian gunung. 

Tak jarang penamaan tanjakan-tanjakan di gunung memang sesuai dengan kisah ataupun perasaan para pendaki yang sudah pernah mencobanya, meski tak jarang ada nama-nama yang sengaja dibuat alay agar tampak lucu. Apapun namanya, tanjakan yang paling menonjol, paling eksis dan paling terkenal di dalam jalur pendakian gunung, pasti membuat siapapun malas, andai tanjakannya bisa di hide. Hm.... tapi bukan pendaki namanya kalau tidak bisa menghilangkan rasa malas.

Berikut adalah nama tanjakan-tanjakan unik yang cukup menarik bagi pendaki di pegunungan Pulau Jawa :

1. Tanjakan Cinta

Pecinta alam pasti sangat mengenal Tanjakan Cinta, nama yang memang diberikan seindah danau Ranu Kumbolo yang ada di depannya. Tanjakan Cinta di Gunung Semeru ini adalah jalur menuju ke puncak dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Tanjakan Cinta sangat populer dengan adanya mitos yang melatar belakanginya.
Tanjakan Cinta
Konon nama Tanjakan Cinta ini bermula dengan adanya dua sejoli yang sedang mendaki Gunung Semeru. Ketika melewati tanjakan ini, si wanita yang berjalan di belakang si pria mengalami kelelahan tanpa diketahui si pria. Si wanita'pun kecelakaan dan akhirnya tewas. Tragedi inilah yang menyebabkan ada mitos "jika berjalan naik tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, kisah cinta akan berakhir bahagia".

Namun jika disangkut pautkan dengan tragedi dimana si pria tidak menoleh ke belakang sehingga dia tidak melihat si wanita kelelahan yang akhirnya tewas, haruskan mitosnya tetap "tanpa menoleh ke belakang?" Not to sweet.

2. Tanjakan Asu / Tanjakan Naga

Pendaki Gunung khususnya di daerah Surabaya pasti sangat mengenal nama Tanjakan Asu (anjing) atau Tanjakan Naga. Tanjakan ini berada di jalur pendakian Gunung Arjuna dan Welirang via Tretes. Pendaki akan menemui tanjakan ini selepas dari pos 2, Kop-kop'an.

Asal mula nama Tanjakan Asu ini memang berawal dari sebuah tragedi, namun bukan tragedi yang berakhir tragis. Masyarakat Surabaya kerap kali menyebut nama penghuni sekebun binatang jika sedang kesal atau marah. "Asu" atau anjing adalah kata yang paling sering disebut pendaki khususnya daerah Surabaya ketika melewati Tanjakan ini.
Permulaan Tanjakan Asu
Bagaimana tidak, tanjakan dengan panjang sekitar 300 meter ini menanjak dengan medan jalan makadam yang tidak rata. Jalur yang melelahkan ini kadang membuat pendaki ngomel-ngomel sambil menyebut kata 'asu'. Namun secara keadaan, tanjakan panjang ini juga disebut Tanjakan Naga karena bentuknya yang panjang dan berbelok melingkar seperti naga.

3. Tanjakan Setan

Beralih dari Jawa Timur ke Jawa Barat akan mengenal Tanjakan Setan. Tanjakan Setan ada di Gunung Gede dan Gunung Salak.  Tanjakan setan di Gunung Gede berada sesaat sebelum menyampai puncak. Tanjakan Setan berupa tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat dan tinggi sekitar 30-50 meter.
Tanjakan Setan
Nama Tanjakan Setan diambil karena ini trek yang paling ekstrim di sepanjang jalur pendakian Gunung Gede. Tantangan yang diberikan seolah-olah kita sedang menantang setan yangmerupakan musuh terakhir sebelum kita menang. Untuk melewati Tanjakan Setan ini sudah diberi kabel baja / tali dan juga sedikit mengantri karena ramainya pendaki ketika mengejar summit attack.

4. Tanjakan Iblis

Tanjakan Iblis sama dengan Tanjakan Setan, hanya beda merk. Jika Gunung Gede memiliki Tanjakan Setan, maka Gunung Salak memiliki Tanjakan Iblis. Di Tanjakan Setan Gunung Gede, pendaki masih dibantu dengan kabel baja untuk naik, namun di Gunung Salak, gunakan kakimu tanpa bantuan naik. Inilah kenapa tanjakan di Gunung Salak ini sejahat iblis dan disebut dengan Tanjakan Iblis. 
Baca Juga : 
Tanjakan Iblis terbentuk dari bongkahan batu gunung yang berlumut dan tentunya sangat licin jika hujan. Tidak adanya tali dan semacamnya tentu akan membuat pendaki pikir-pikir untuk naik ketika turun hujan. Hanya ada seutas tali yang disambung dengan spanduk bekas yang akan cukup membantu pendaki untuk naik.

5. Tanjakan Seruni

Tanjakan Seruni adalah nama tanjakan setelah Tanjakan Bin-bin di jalur pendakian Gunung Ciremai via Linggarjati. Tanjakan ini mengharuskan pendaki naik dengan setengah memanjat karena tanjakan yang cukup tinggi. Akar pepohonan akan membantu pendaki untuk memanjat di jalur yang cukup panjang di Gunung Ciremai ini.

Selain jalurnya rapat, Tanjakan Seruni cukup panjang dan sangat menanjak. Jika hujan, sepanjang jalur sangat licin.

6. Tanjakan Bapa Tere

Masih di Gunung Ciremai. Tanjakan Bapa Tere merupakan tanjakan yang paling terkenal dimana pendaki diharuskan memanjat dengan trek yang lebih ekstrim dibanding Tanjakan Seruni. Kemiringan tanjakan ini hampir 90 derajat dengan tinggi sekitar 10-15 meter berbatu. Jadi jangan coba-coba naik menggunakan sarung.

Tanjakan yang paling berat di jalur pendakian Gunung Ciremai via Linggarjati ini berkesan seperti siksaan bapak tiri ke anaknya, untuk itulah tanjakan ini disebut Tanjakan Bapa Tere. Jadi ketika mendaki Gunung Ciremai, bersiapkah mengalami penderitaan seperti anak tiri. 

7. Tanjakan Ombing, Roheng dan Tikoro

Masih di Jawa Barat dan bergeser ke Gunung Cikuray ada Tanjakan Ombing. Tanjakan Ombing ada di jalur Pendakian Gunung Cikuray via Bayongbong. Ada 2 Tanjakan Ombing dimana Tanjakan Ombing 2 lebih terjal dibanding Tanjakan Ombing 1. Tanjakan Ombing akan ditemui diantara pos 1 dan pos 2.

Tanjakan ini mempunyai kemiringan sekitar 30 derajat dan ketika melaluinya, pendaki akan serasa diombang-ambing, untuk itulah tanjakan ini dinamakan Tanjakan Ombing. 

Tanjakan Roheng akan menanti setelah melewati Tanjakan Ombing. Tanjakan ini cukup terjal dan panjang dengan beberapa pepohonan tumbang. Sebelum sampai di puncak, Tanjakan Tikoro adalah tanjakan terakhir yang harus dilalui dengan jalur yang menanjak dan berliku sebelum sampai ke puncak Gunung Cikuray.

8. Tanjakan Penyesalan

Tanjakan Penyesalan bukan hanya ada di bukit penyesalan Gunung Rinjani namun juga ada di jalur Pendakian Gunung Cikuray via Cilawu atau pemancar. Pendakian Gunung Cikuray via Cilawu memang dipenuhi banyaknya tanjakan dengan nama-nama yang cukup alay. Bukan hanya banyaknya tanjakan, namun jalurnya dari bawah sampai puncak berupa tanjakan sehingga banyak nama-nama tanjakan yang tercipta di setiap lokasi.
Tanjakan Jalur Gunung Cikuray
Sebut saja Tanjakan Cihuy, Tanjakan Ambing, Tanjakan Wakwaw, Tanjakan Pesanan dan Tanjakan Sakti. Semuanya adalah Tanjakan dengan cirikhas yang hampir sama karena memang jalur pendakian seluruhya berupa tanjakan. Inilah yang membuat beberapa pendaki nyaris berfikiran menyesal ketika melintasi jalur pendakian Gunung Cikuray via Cilawu ini. 

Itulah beberapa tanjakan gunung-gunung di Jawa yang populer yang tentu mempunyai cerita unik dibaliknya, sehingga tercipta berbagai nama tanjakan menarik para penggiat alam bebas untuk mencoba sensasi deritanya.  Wanna try? atau ada yang tau nama tanjakan baru?

Loading...

Share :

Facebook Twitter Google+

2 Responses to "8 Tanjakan Unik di Jalur Pendakian Gunung - Gunung di Jawa"

  1. Tanjakan di gunung sindoro om, lewat jalur baru kejajar..asu, dari pos 2 ampe puncak nanjak terus..kalo mo ngecamp bisanya cuma di pos 2 ama puncak doang.. Kecuali mau nggali dan bikin teras sendiri di tanjakan (kayak yg gw ama temen temen lakuin waktu badai)

    ReplyDelete
  2. @Cee PriscaFelix, yang paling menarik dari pendakian Gunung Welirang salah satunya adalah Tanjakan Asu / Tanjakan Naga karena jalan yang dilalui sangat berat. Bahkan Mobil Jeep "setengah" Hartop sering berhenti di tengah jalan karena Mesin Mobilnya terlalu panas sambil bersantai2 sebelum mereka mencangkul padatan dan leleran Belerang di Puncak Gunung Welirang yang cukup tinggi, 3.156 Mdpl. Tapi, Mobil Jeep + Hardtop itu menggunakan Mesin Diesel atau Mesin Bensin? Apa mereka mendapat pasokan BBM di Hardtop mereka? Berapa harga BBM / Ltr untuk Kendaraan2 yang mereka pakai?

    ReplyDelete