Ungkapan Hati Seorang Pecinta Alam

loading...
Awalnya hanya mentari  tiap pagi, bintang dan bulan tiap malam.
Mungkin aku hanya tau itu dari sinar yang masuk melalui jendela, dari panas menyengat di halaman dan bintang dari genteng kaca di langit-langit kamar.
Dunia berinteraksi dengan mereka dan aku hanya berinteraksi dengan dunia.
Ketika aku masih kecil...

Langkah kaki mulai keluar dari garis aman, mencoba melihat apa itu 'mereka' yang selalu menyapa tiap hari namun tak pernah kusapa.

Kaki melangkah berat untuk menyambutnya, berjuang menuju puncak,sebuah jawaban.
Jawaban lain yang pada akhirnya menyuruhku berangkat bersama kisah, perjalanan hidup yang sangat berarti.
Berawal dari rasa ingin tau untuk mencari yang membangunkan tiap pagi dan menemani di tidur malam.
Tidak akan ada yang tau, siapapun tak akan tau apa yang ada di luar selama melihatnya dari balik tembok, jendela dan genteng rumah.

Ketika siapapun bilang aku tidak mampu, alam menjawabnya dan mengatakan aku mampu mencapai puncaknya.

Ketika siapapun bilang aku tidak sanggup, alam menjawabnya dan mengatakan aku sanggup untuk berjalan menyusurinya.
Ketika siapapun bilang aku tidak cukup kuat, alam menjawabnya dan mengatakan aku kuat membawa beban berat dalam perjalanan panjang.
Ketika siapapun bilang aku tidak bisa apa-apa, alam menjawabnya dan mengatakan aku bisa mendakinya.

Jika siapapun bisa meremehkan, alam juga yang akan menjawabnya.

Begitu aku mencintai Tuhan dan Alam, yang terkadang membuatku jarang ada di tempat dimana aku harus ada.
Kutinggalkan ayah, ibu, kakak, hanya untuk pergi menyapanya.
Jarang menghabiskan waktu untuk keluarga hanya untuk pergi menikmatinya.
Aku bahagia, tertawa, menikmatinya tanpa tau siapa yang sedang berfikir keadaanku, mengkawatirkan keselamatanku dan apa yang akan diperbuat angin, dingin, kabut, panas dan hujan. Memikirkan bagaimana aku tidur, bagaimana aku makan, bagaimana ketika 'kotor' itu menjadi baik.
Ketika aku tidak pulang, mungkin memikirkan bagaimana aku menjalani malam, bertahan hidup di tengah hutan, di tempat asing yang terbuka. Memikirkan apa aku berhasil di puncak, atau tumbang di tengah jalan dan memikirkan apa aku baik-baik saja untuk pulang.
Untuk berangkat pun aku siap. Siap kedinginan, kepanasan, kerepotan dan siap jika tidak bisa pulang. Siap ketika sewaktu-waktu maut akan menjemput karena apa yang menyapa raga akan kuijinkan menyapa jiwa.

" Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda" _Soe Hok Gie 


Alam seperti keluarga kedua yang bisa mengakui dan menerima. Menerima kemarahan, kekesalan, kebahagiaan dan semuanya. Dan aku ingin dia (alam) mengenal dan menyapa keluargaku.
Waktu kugunakan untuk mengunjunginya. Untuk menuliskan nama-nama mereka di puncak dan mengingat mereka di setiap perjalanan.
Betapa aku bangga menuliskan nama mereka, menunjukkan kepada mereka. Aku, yang terbatas oleh dinding, jendela dan genteng, bisa melakukan apa yang tidak pernah ada di pikirannya.
Mungkin salah, seorang pecinta alam telah menjadi anaknya, adiknya dan keluarganya.
Dan untuk masa depan, hanya ada umur tua sedangkan aku tidak ingin masa tua,masa tidak bisa menikmati, dan melihat. Hanya mendengar, berimajinasi di pikiran tanpa tenaga untuk berbuat. Bagiku cukuplah masa muda menjadi awal dan akhir dalam siklus kehidupan.

loading...

Share :

Facebook Twitter Google+

0 Response to "Ungkapan Hati Seorang Pecinta Alam"

Post a Comment