Kebutuhan yang Mengalahkan Hak

Manusia hidup di dunia pastinya memiliki Hak dan juga Kewajiban. Kali ini bukan untuk membahas hak apa saja yang didapatkan manusia tapi sebuah pemikiran tentang hak yang mungkin sedikit disingkirkan oleh sebuah kebutuhan, atau mungkin kebutuhan yang jenisnya sudah berubah menjadi keinginan.

Ada beberapa cerita berhubungan dengan kenaikan UMK pagi ini :
  1. Pagi ini di sebuah ruangan kamar, seorang teman saya langsung menyalakan ponsel dan mengecek rekening bank’nya. Ya… tentu saja tentang gaji pertama setelah kenaikan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) awal taun 2015. Sebelum kenaikan UMK, gajinya UMK + n dan setelah UMK naik gajinya menjadi UMK – n. Dia hanya menggerutu sambil bilang, “Kalau pelitnya wajar sih ga masalah. Kalau udah ga adil, aku bela hakku, rugi aku jadi sarjana. Aku harus demo!.” 
  2. Seorang lagi mengecek ATM pagi-pagi dan dengan muka ceria. Sarjana itu dengan bangga dia katakan “Gajiku naik banyak jadi UMK!”. Memang selama ini gajinya mengikuti UMK. Jika naik Rp.500.000 ya akan naik Rp.500.000.
  3. Yang seorang lagi mukanya tampak biasa-biasa saja. Biasanya dia digaji UMK+2n dan setelah kenaikan, dia digaji UMK+ n. Beda dengan temannya yang digaji UMK gajinya naik lebih banyak dari pada dia yang gajinya lebih besar namun tampak kenaikan hanya sedikit. 
Tanggapan dan ekspresi beberapa orang memang berbeda seiring naiknya UMK tahun ini, ada yang puas, santai maupun tidak terima, bukan dengan UMK tapi dengan kebijakan tempatnya bekerja.
Beberapa orang kadang berfikir kalau uang adalah segalanya, jika uang bukan segalanya, segalanya memang butuh uang. Yah… banyak yang mengatakan “yang penting kerja”, entah di dalam pekerjaan  itu mereka menerima keadilan atau tidak . Ada juga yang bangga bekerja di salah satu perusahaan besar yang produknya terkenal, menjabat sebagai seorang atasan yang pada hakikatnya tetaplah buruh. Bukan tentang digaji berapa yang penting bisa ada uang untuk makan. Selama ini kekuasaan memang sudah menindas manusia.

Manusia itu, "Semakin banyak semakin merasa menang. Semakin tua semakin merasa benar. Semakin tinggi semakin merasa berkuasa."

Bayangkan saja seorang Sarjana yang bekerja dan digaji di bawah UMK. Yah…. Kalau kontraknya hanya selama percobaan saja tidak masalah, kalau seterusnya dan maximal adalah UMK?, apa bedanya dengan buruh-buruh lain dengan gaji sama namun hanya lulusan SMA dan hanya unggul lebih lama atau disebut sebagai “senior”?

Mereka diam, apalagi kalau itu merupakan pekerjaan pertama dan masih orang baru. Masih tetap dengan sebuah sugesti “yang penting kerja dapat uang”, yang penting bisa makan, minum dan membeli beberapa kebutuhan (karena oksigen gratis), kadang pula hal-hal kecil yang menjadi hak mereka, yang sudah tercantum di Undang-undang itu dilupakan.Mereka takut tidak akan mendapatkan yang lebih diluar dan terlalu yakin bahwa tempat yang bisa mempekerjakannya hanya disitu, dimana ada oknum yang mempermainkan kehidupan mereka sedangkan yang dipermainkan tidak ingin membela Haknya.Yang memperkaya orang lain, sampai kapan akan terus dibodohi?. Pekerja bukanlah kerbau dan ini adalah negara demokrasi, tak ada lagi kerja rodi. Tuntut jika tidak adil, pergi jika kebenaran sudah tak terlihat lagi. Buat apa mempertahankan harga diri yang sudah terinjak-injak hampir mati.
Dari sekitar pegunungan, berpijaklah melihat realitas kehidupan yang mungkin tidak diinginkan.


Share :

Facebook Twitter Google+

0 Response to "Kebutuhan yang Mengalahkan Hak"

Post a Comment

Welcome....!!!